Selasa, 22 Desember 2009

TUGAS PARASITOLOGI
MAKALAH
“HELMINTOLOGI”







OLEH
NAMA
NIM
: NURUSYIFAH
: K 100 060 053





FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
SURAKARTA
2009



BAB I
PENDAHULUAN

Helmintologi adalah ilmu yang mempelajari parasit yang berupa cacing berdasarkan taksonomi, helmint dibagi menjadi :
1. NEMATHELMINTHES (cacing gilik)
Merupakan cacing kelas Nematoda mempunyai spesies terbesar diantara cacing-cacing yang hidup sebagai parasit
a. Nematoda Usus
Yaitu cacing yang berada di usus manusia dan hewan lain. Sebagian besar daripada nematoda ini menyebabkan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Diantara nematoda usus terdapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah dan disebut “soil transmitted helminths” yang terpenting bagi manusia adalah Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Ancylostoma duodenale, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis, Oxyuris vermicularis dan Trichinella spiralis.

b. Nematoda Jaringan
Jenis cacing ini terdapat dalam jaringan tubuh hewan baik secara alami amupun sebagai parasit. Cacing yang termasuk dalam jenis nematoda jaringan yaitu Wucheria bancroffi, Brugia malayi, Brugia timori, Loa loa dan Onchocerca valvulus

2. PLATYHELMINTHES (cacing pipih)
a. Kelas Trematoda (cacing daun)
Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit. Berbagai macam hewan dapat berperan sebagai hospes definitif cacing trematoda, antara lain yaitu : kucing, anjing, sapi, babi burung dan manusia. Menurut tempat hidup cacing dewasa dalam tubuh hospes, maka trematoda dapat dibagi dalam :
i. Trematoda Hati : Clonorchis sinensis, Opisthorchis felineus
ii. Trematoda Usus : Fasciolopsis buski
iii. Trematoda Paru : Paragonimus westermani
iv. Trematoda Darah : Schistosoma japanicum


b. Kelas Cestoda (cacing pita)
Cacing dewasa kelas Cestoda menenpeli saluran usus vertrebrata dan larvanya hidup di jaringan vertrebrata dan invertrebrata. Manusia merupakan hospes Cestoda ini dalam bentuk :
i. Cacing dewasa untuk spesies D.latum, T.saginata, T.solium
ii. Larva untuk spesies Diphyllobothrium sp, T.solium


























BAB II ISI
Elephantiasis

Elephantiasis atau lebih umum dikenal sebagai penyakit kaki gajah atau filariasis adalah suatu gangguan di pembuluh darah dan pembuluh limfe. yang disebabkan oleh cacing Wuchereria Bancrofti dan Brugia timori merupakan Nematoda jaringan. Sekitar 120 juta orang terinfeksi dengan organisme ini di berbagai negara tropis dan subtropis yang di tularkan melalui gigitan nyamuk Culex, Aedes dan Anopheles yang banyak hidup di sekitar masyarakat.
a. Morfologi cacing
Cacing penyebab filariasis berwujud mirip benang. Filarial dari genus wuchereria dan brugia. Di Indonesia cacing yang dikenal menjadi penyebab adalah wuchereria bancrofti, brugia malayi, dan brugia timori.
Cacing dewasa berbentuk silindris, halus seperti benang putih serta berukuran panjang 55-100 mm dan tebal 0,16 mm. Cacing jantan lebih kecil, 55 mm x 0,09 mm. Larva mikrofilaria sekali keluar jumlahnya bisa puluhan ribu larva bersarung berukuran 200-600 mikron x 8 mikron.
b. Vektor
Ahli parasitologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Saleha Sungkar menjelaskan, mikrofilaria masuk ke dalam tubuh manusia lewat nyamuk. Lebih dari 20 spesies nyamuk menjadi vektor filariasis. Nyamuk Culex quinquefasciatus sebagai vektor untuk wuchereria bancrofti di daerah perkotaan. Di pedesaan vektor umumnya Anopheles, Culez, Aedes, dan Mansonia. Spesies nyamuk vektor bisa berbeda dari daerah satu dengan daerah lain.
c. Siklus Hidup Cacing Filaria
Siklus hidup cacing Filaria terjadi melalui dua tahap, yaitu:
i. Tahap pertama
Perkembangan cacing Filaria dalam tubuh nyamuk sebagai vector yang masa pertumbuhannya kurang lebih 2 minggu. Siklus hidup pada tubuh nyamuk terjadi apabila nyamuk tersebut menggigit dan menghisap darah orang yang terkena filariasais, sehingga mikrofilaria yang terdapat di tubuh penderita ikut terhisap ke dalam tubuh nyamuk. Mikrofilaria yang masuk ke paskan sarung pembungkusnya, kemudian mikrofilaria menembus dinding lambung dan bersarang di antara otot-otot dada (toraks). Bentuk cacing Filaria menyerupai sosis yang disebut larva stadium I. Dalam waktu kurang lebih 1 minggu, larva ini berganti kulit, tumbuh akan lebih gemuk dan panjang yang disebut larva stadium II. Pada hari ke sepuluh dan seterusnya, larva berganti kulit untuk kedua kalinya, sehingga tumbuh semakin panjang dan lebih kurus, ini yang sering disebut larva stadium III. Gerak larva stadium III ini sangat aktif, sehingga larva mulai bermigrasi (pindah), mula-mula ke rongga perut (abdomen) kemudian pindah ke kepala dan ke alat tusuk nyamuk.
ii. Tahap kedua
Perkembangan cacing Filaria dalam tubuh manusia (hospes) kurang lebih 7 bulan. Siklus hidup cacing Filaria dalam tubuh manusia terjadi apabila nyamuk yang mengendung mikrofilaria ini menggigit manusia. Maka mikrofilaria yang sudah berbentuk larva infektif (larva stadium III) secara aktif ikut masuk ke dalam tubuh manusia (hospes). Bersama-sama dengan aliran darah pada tubuh manusia, larva keluar dari pembuluh darah kapiler dan masuk ke pembuluh limfe. Di dalam pembuluh limfe, larva mengalami dua kali pergantian kulit dan tumbuh menjadi cacing dewasa yang sering disebut larva stadium IV dan stadium V. Cacing Filaria yang sudah dewasa bertempat di pembuluh limfe, sehingga akan menyumbat pembuluh limfe dan akan terjadi pembengkakan, misalnya pada kaki dan disebut kaki gajah (filariasis).
d. Patologi dan Gejala Klinis
Stadium akut ditandai dengan serangan demam dan gejala peradangan saluran dan kelenjar limfe, yang hilang timbul berulang kali. Limfadenitis biasanya mengenai kelenjar limfe inguinal disatu sisi dan peradangan ini sering timbul stelah penderita bekerja berat diladang atau sawah. Limfadenitis biasanya berlangsung 2-5 hari dan dapat sembuh dengan sendirinya, tanpa pengobatan. Kadang-kadang peradangan pada kelenjar limfe ini menjalar ke bawah mengenai saluran limfe dan menimbulkan limfangitis retrograd, yang bersifat khas untuk filariasis. Peradangan pada saluran limfe ini dapat terlihat sebagai garis merah yang menjalar ke bawah dan peradangan ini dapat pula menjalar ke jaringan sekitarnya, menimbulkan infiltrasi pada seluruh paha atas. Pada stadium ini tungkai bawan biasanya ikut membengkak dan menimbulkan gejala limfedema
e. Pengobatan dan Prognosis
Hingga saat ini DEC masih merupakan obat pilihan. Dosis yang dipakai di beberapa negara Asia berbeda-beda. Di Indonesia dosis yang dianjurkan adalah 5 mg/kgBB / hari selama 10 hari. Efek samping DEC pada pengobatan filariasis brugia lebih berat, bila dibandingkan denganyang terdapat pada pengobatan filariasis bankrofti. Untuk pengobatan masal pemberian dosis standardan dosis tunggal tidak dianjurkan. Yang dianjurkan adalah pemberian dosis rendah jangka panjang (100 mg/minggu selama 40 minggu) atau garam DEC 0,2-0,4% selama 9-12 bulan





























BAB III
PENUTUP
Penanggulangan filariasis dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu pengurangan reservoir penular, penanggulangan vektor (nyamuk), dan pengurangan kontak vektor dan manusia. Khusus pengobatan massal, prosedur sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pengobatan massal sejak lama menggunakan diethylcarbamazine citrate (DEC) yang sudah dipraktikkan di 50 negara mencakup 496 juta orang. Di Indonesia sebanyak 11.699 kasus kronis filariasis ditemukan di 378 kabupaten/kota. Berdasarkan pemetaan didapatkan, prevalensi mikrofilaria di Indonesia sebesar 19 persen, yang berarti 40 juta orang yang tubuhnya membawa mikrofilaria. Indonesia pun berusaha memberantas penyakit tersebut dengan belakangan mengguyur DEC, albendazole, dan paracetamol ke jutaan warga, berharap si cacing mini tak lolos dari kepungan pembasmian



DAFTARPUSTAKA

Anonim, 2009 , Cacing Filaria Dan Penyakit “Kaki Gajah” online (http://www.juraganmedis.com/filariasis-penyakit-kaki-gajah.html diakses 4 Desember 2009)
Anonim, 2009, Cacing Mini Dan "Kaki Gajah", online (http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/11/19/06214245/cacing.mini.dan.kaki.gajah Diakses 4 Desember 2009)
Gandahusada, Srisasi, 2000. Parasitologi Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, UI pres. Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar